MEDIA ONLINE SIDIKUTAMA.MY.ID SELAMAT ULANG TAHUN KE 3 17 AGUSTUS 2026 - SIDIKUTAMA.MY.ID | BERITA TERUPDATE DAN TERPERCAYA | MEDIA TV 📺 ONLINE Ketika Plastik Bekas Menjadi Wayang: Kisah Mbah Joget Dihidupkan Lagi dari Kota Lama Semarang

Ketika Plastik Bekas Menjadi Wayang: Kisah Mbah Joget Dihidupkan Lagi dari Kota Lama Semarang


SEMARANG || Ada pemandangan tak biasa di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, Kamis, 17 September 2026. Plastik-plastik bekas yang biasanya dibuang begitu saja, malam itu justru tampil sebagai tokoh-tokoh wayang yang bercerita. Di tangan kelompok seni Wayang Reged, material yang dianggap reged atau kotor itu menemukan nyawanya kembali menjadi wayang, sekaligus jalan untuk menghidupkan cerita Nusantara yang kian terlupakan.

Semangat itulah yang menggerakkan karya bertajuk "Mbah Joget Gunung Santri". Mengangkat lakon "Hijrahnya Nyi Dancer Plat H", pertunjukan ini dibawakan oleh dalang Ki Sindhunata Ge.W., S.Sn., M.Sn., yang akrab dikenal sebagai Dalang Rock n Roll.

Wayang Reged bukan sekadar pementasan. Ia mempertemukan cerita rakyat, seni pertunjukan, seni rupa, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu tarikan napas. Kisah Mbah Joget yang dipercaya berakar sejak abad ke-15, di masa Wali Songo, tidak dibiarkan tinggal sebagai cerita usang. Ia dibaca ulang, disandingkan dengan persoalan masyarakat dan lingkungan hari ini.

Di titik itu, limbah plastik menemukan peran barunya. Material yang selama ini lekat dengan masalah sampah diolah menjadi bahasa visual pertunjukan, sekaligus tubuh bagi karakter-karakter wayang.

Merawat Cerita, Mengolah Limbah

Wayang Reged tumbuh sebagai landscape visual berbasis riset—menyoroti persoalan limbah plastik di Jawa, sekaligus menggali kembali cerita-cerita Nusantara yang mulai jarang dikenal.

Lewat "Mbah Joget Gunung Santri", dua persoalan yang tampak berjauhan dipertemukan: warisan cerita dan krisis lingkungan. Cerita menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang manusia; plastik menjadi jejak material dari kehidupan manusia modern.

Cara ini membuat pertunjukan tak berhenti sebagai tontonan. Cerita rakyat, seni rupa, bunyi, gerak, lingkungan, dan pengetahuan tradisi bertemu dalam satu ruang pengalaman.

Salah satu bagian pentingnya adalah pameran 10 wayang kontemporer berbahan limbah plastik karya Sufan Andy Lukman atau Andy Sueb. Kesepuluh wayang itu merepresentasikan tokoh-tokoh dalam kisah Mbah Joget.

Material yang semula dianggap tak berguna ditata kembali menjadi objek artistik. Di dalamnya tersimpan pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah benda yang telah dibuang benar-benar kehilangan nilai, atau manusia yang terlalu cepat melabelinya sebagai sampah?

Pameran ini dikuratori Aristya Kusuma Verdana, dengan pengantar kebudayaan dari Tri Subekso.

Dengan pendekatan itu, kata "reged" tak hanya menunjuk pada kondisi material. Ia menjadi gagasan tentang bagaimana sesuatu yang berada di pinggir perhatian dapat diolah kembali menjadi medium untuk merawat ingatan dan kebudayaan.

Wayang, Dupa, dan Ritual

Rangkaian kegiatan dibuka dengan diskusi kebudayaan bertajuk "Membaca Jejak Wayang dan Aroma Dupa sebagai Ritual Kebudayaan Kontemporer."

Diskusi menghadirkan dr. apt. Mega Puspitasari, S.Farm., M.Sc., akademisi sekaligus peramu di Jumbuh Meramu, Yogyakarta, bersama Ki Sindhunata Ge.W., S.Sn., M.Sn.

Pertemuan itu membuka percakapan tentang hubungan wayang, ritual, dupa, tanaman, tubuh, ruang, dan praktik kebudayaan. Pengetahuan tradisi dipertemukan dengan cara pandang seni kontemporer.

Usai diskusi, peserta mengikuti workshop membuat dupa bersama Mbah Viki dari Jumbuh. Kegiatan ini memberi pengalaman langsung tentang material alam dan pengetahuan meramu yang berkaitan dengan ritual maupun kehidupan sehari-hari.

Jumbuh Meramu juga menampilkan sejumlah karya, antara lain "Ziarah Tanah", dupa, serta parfum berbahan tanaman obat. Kehadiran karya-karya itu memperluas pembicaraan tentang hubungan manusia dengan tanah, tumbuhan, aroma, tubuh, dan ritual.

Sementara itu, Saparo menghadirkan pop-up store berbasis plastik yang memperkenalkan kemungkinan kreatif dalam pemanfaatan material tersebut.

Ketika Tradisi Bertemu Bunyi dan Gerak

Puncak kegiatan adalah pertunjukan Wayang Kontemporer "Mbah Joget Gunung Santri" dengan lakon "Hijrahnya Nyi Dancer Plat H".

Pertunjukan digarap secara kolaboratif. Dalang, seniman, musisi, dan penari dipertemukan untuk membangun pengalaman yang memadukan wayang dengan eksplorasi bunyi, visual, gerak, dan gagasan ekologis.

Sejumlah kolaborator yang terlibat antara lain Mentari Isnaini, Opera Biru, Indra Prasetiya, Tridhatu, Anandito Aprio, dan Sunyi Ruri.

Dengan format tersebut, wayang tidak diperlakukan sebagai artefak yang hanya disimpan dalam ruang nostalgia. Ia menjadi medium yang dapat bergerak, bersuara, berubah bentuk, dan berdialog dengan persoalan zaman.

Bagi Wayang Reged, lingkungan bukan semata perkara kampanye. Persoalan ekologis dapat dibicarakan melalui cerita, visual, bunyi, tubuh, dan pengalaman artistik.

Cerita yang Tidak Berhenti sebagai Legenda

"Mbah Joget Gunung Santri" menjadi bagian dari upaya membaca kembali cerita Nusantara melalui bahasa seni kontemporer. Di dalamnya terdapat pertemuan antara masa lalu dan masa kini: legenda, ritual, wayang, tanaman, plastik, tubuh, bunyi, dan ruang kota.

Dari pertemuan itu muncul kemungkinan baru dalam literasi budaya. Cerita rakyat tidak hanya diwariskan melalui teks, tetapi dapat dihidupkan kembali melalui benda, pertunjukan, riset, dan pengalaman bersama.

Demikian pula limbah plastik. Ia tidak hanya hadir sebagai persoalan material, tetapi menjadi pintu masuk untuk membicarakan perilaku konsumsi, hubungan manusia dengan alam, dan konsekuensi kehidupan modern.

Kegiatan "Mbah Joget Gunung Santri" didukung Kementerian Kebudayaan dan Dana Indonesia Raya, serta didukung 5050 Art Lab, Mehama Music, Jumbuh, HU Studio, Teater Lingkar, Rumah Pohan, Mentari Menari Dance Studio, dan BINUS University Online.

Melalui karya tersebut, Wayang Reged berupaya memastikan Mbah Joget tidak berhenti sebagai legenda dari masa lalu. Cerita itu dihidupkan kembali sebagai pengetahuan, bahan refleksi, sekaligus sumber inspirasi bagi generasi hari ini.

(Ganang)
Lebih baru Lebih lama

MEDIA ONLINE TERUPDATE DAN TERPERCAYA