SEMARANG || sidikutama.my.id - Teater Lingkar kembali menghadirkan pertunjukan yang sarat makna melalui drama musikal "Suko Tani" di Auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jumat (24/7/2026). Mengangkat tema "Indonesia Berdaulat Menuju Swasembada Pangan", pementasan ini tidak sekadar menyajikan hiburan, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi mengenai kehidupan petani, pelestarian budaya, dan pentingnya menjaga harmoni alam demi masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Pementasan yang merupakan hasil kolaborasi antara Teater Lingkar dan BEM UNNES tersebut disaksikan sekitar 500 orang. Auditorium dipenuhi mahasiswa, dosen, pegiat seni dan budaya, komunitas teater, pelajar, hingga masyarakat umum yang antusias mengikuti setiap adegan. Perpaduan drama, musik, tari, serta unsur tradisi Jawa berhasil menghadirkan suasana emosional yang membuat penonton larut dalam kisah yang disampaikan.
Melalui "Suko Tani", Teater Lingkar menggambarkan realitas kehidupan petani Indonesia yang masih bergelut dengan berbagai tantangan. Harga hasil panen yang kerap berfluktuasi, meningkatnya biaya produksi, hingga semakin berkurangnya lahan pertanian menjadi potret persoalan yang diangkat dalam pertunjukan. Di balik berbagai kesulitan tersebut, tersimpan harapan agar petani memperoleh kehidupan yang lebih layak sehingga mampu mempertahankan sawah sebagai sumber penghidupan dan penyangga ketahanan pangan bangsa.
Pertunjukan ini juga mengangkat nilai-nilai luhur masyarakat agraris Jawa melalui tradisi sedekah bumi, yang dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap alam yang telah memberi kehidupan. Tradisi tersebut digambarkan sebagai pengingat bahwa manusia, alam, dan pertanian memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam alur cerita, rasa syukur dipersembahkan kepada Hyang Widhi melalui penghormatan kepada Bathari Sri, dewi padi, dan Bathara Sadono, dewa tanaman palawija serta kesuburan. Namun ketika manusia mulai dikuasai keserakahan, mengeksploitasi alam tanpa menjaga keseimbangannya dan melupakan tradisi sedekah bumi, muncullah ancaman dari bangsa hama yang dipimpin Buto Kolo Wereng bersama yaksa Jinada. Konflik tersebut menjadi simbol rusaknya hubungan manusia dengan alam, hingga akhirnya para sesepuh petani bersama Bathari Sri dan Bathara Sadono berjuang memulihkan keseimbangan demi menyelamatkan kehidupan pertanian.
Ketua Teater Lingkar, Ki Sindhunata Gesit, mengatakan bahwa "Suko Tani" lahir dari kepedulian terhadap nasib petani yang hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan. Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran publik sekaligus menyampaikan pesan kemanusiaan secara lebih menyentuh.
Melalui Suko Tani, kami ingin mengingatkan bahwa setiap butir nasi yang hadir di meja makan merupakan buah dari perjuangan panjang para petani. Swasembada pangan tidak akan pernah terwujud apabila para petaninya belum memperoleh kesejahteraan. Karena itu, masyarakat perlu semakin menghargai kerja keras petani sekaligus menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan," ujarnya.
Ia juga berharap pertunjukan seperti ini dapat menjadi media edukasi budaya yang mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sektor pertanian dan lingkungan.
Apresiasi datang dari anggota DPRD, Anang Budi Utomo, yang menilai pementasan tersebut berhasil menyampaikan pesan pembangunan melalui pendekatan seni budaya.
Suko Tani bukan hanya pertunjukan yang menghibur, tetapi juga mengandung nilai pendidikan yang kuat. Pesan mengenai pentingnya menjaga pertanian, budaya, dan lingkungan tersampaikan dengan sangat baik kepada masyarakat, khususnya generasi muda," katanya.
Kesan mendalam juga dirasakan para penonton. Rina, mahasiswa UNNES, mengaku tersentuh oleh kisah yang dihadirkan di atas panggung.
Pertunjukan ini membuka mata saya bahwa menjadi petani bukan sekadar menanam dan memanen. Ada perjuangan, pengorbanan, serta nilai-nilai budaya yang harus dijaga agar pertanian tetap lestari," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Andi, pegiat seni yang hadir menyaksikan pementasan. Menurutnya, "Suko Tani" berhasil memadukan kekuatan artistik dengan kritik sosial yang relevan terhadap kondisi pertanian saat ini.
Ceritanya kuat, unsur tradisinya terasa, dan pesan yang dibawa sangat dekat dengan realitas. Ini menjadi contoh bagaimana seni pertunjukan mampu menyampaikan isu-isu penting dengan cara yang menyentuh hati," ujarnya.
Gemuruh tepuk tangan yang berkali-kali memenuhi auditorium menjadi penutup yang mengesankan. Melalui "Suko Tani", Teater Lingkar menegaskan bahwa cita-cita mewujudkan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada kerja keras petani atau kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam, merawat budaya, serta menghargai mereka yang menjadi penyangga utama kehidupan pangan bangsa.
(Ganang)
