SEMARANG || sidikutama.my.id - Pesan persatuan tidak selalu disampaikan melalui pidato atau forum organisasi. Di Kongres ke-X Persatuan Pegawai PT PLN Indonesia Power (PP-IP), pesan itu hadir melalui panggung seni.
Teater Lingkar Semarang tampil membawakan “Persembahan Budaya Nusantara” dalam rangkaian pembukaan Kongres ke-X PP-IP di Hotel Santika Semarang, Senin (31/8/2026). Pertunjukan yang memadukan tari, teater, musik, dan ragam ekspresi budaya Nusantara itu menjadi selingan sekaligus medium untuk menyampaikan pesan tentang kebersamaan, keberanian, dan perjuangan.
Kongres ke-X PP-IP berlangsung di Semarang pada 31 Agustus hingga 2 September 2026. Forum tersebut menjadi ruang bagi para pegawai untuk membahas arah dan masa depan organisasi, termasuk berbagai dinamika yang dihadapi dalam dunia kerja.
Di tengah agenda organisasi yang formal, panggung budaya menawarkan pendekatan berbeda. Pesan tentang solidaritas dan perjuangan disampaikan melalui ekspresi seni yang lebih dekat dengan sisi emosional manusia.
Seni sebagai Bahasa Perjuangan
Salah satu perwakilan PT PLN Indonesia Power, Suroso, mengatakan seni budaya dapat menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan semangat perjuangan serikat pekerja dengan pendekatan yang lebih humanis.
Menurut dia, perjuangan organisasi tidak selalu harus disampaikan melalui forum formal maupun orasi yang keras. Seni dapat menjadi bahasa alternatif untuk menyampaikan gagasan sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya kebersamaan.
«“Seni budaya juga bisa dipakai untuk menyampaikan pesan perjuangan sebuah serikat, yaitu Persatuan Pegawai PT PLN Indonesia Power. Tidak harus melalui orasi atau agenda lain yang dirasa lebih keras dalam pelaksanaannya,” ujar Suroso.»
Menurut Suroso, kekuatan seni terletak pada kemampuannya menyentuh sisi emosional penonton. Pesan mengenai solidaritas, keberanian, dan kepedulian dapat diterima melalui pengalaman yang lebih personal dibandingkan sekadar mendengarkan pidato.
Karena itu, kehadiran pertunjukan budaya dalam kongres bukan semata-mata pelengkap acara. Panggung tersebut menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa kekuatan organisasi juga dibangun dari hubungan antarmanusia.
Keberagaman sebagai Kekuatan
“Persembahan Budaya Nusantara” membawa gambaran mengenai keberagaman Indonesia. Perbedaan tradisi, karakter, seni, dan ekspresi budaya justru menjadi kekayaan ketika ditempatkan dalam satu kesatuan.
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan organisasi. Sebuah serikat pekerja terdiri atas individu dengan latar belakang, pemikiran, dan kepentingan yang beragam. Namun, keberagaman itu dapat menjadi kekuatan ketika disatukan oleh tujuan bersama.
“Sebuah serikat harus solid, berpihak kepada anggota tanpa harus kehilangan keberanian dalam bergerak atau berjuang,” kata Suroso.
Ketua Teater Lingkar Semarang, Sindhunata Gesit Widiharto, mengatakan seni pertunjukan dapat menjadi ruang dialog antara nilai-nilai tradisi dan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.
Teater Lingkar Semarang mengembangkan pertunjukan dengan memadukan berbagai unsur seni, antara lain teater, pedalangan, tari, karawitan, dan musik. Perpaduan tersebut memungkinkan pesan budaya disampaikan melalui bahasa artistik yang dapat diterima oleh beragam kalangan.
Bagi Sindhunata, budaya tidak berhenti sebagai tontonan. Seni juga memiliki nilai tuntunan, terutama mengenai keberanian, kesetiaan, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama.
«“Kami ingin pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa kebersamaan dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran merupakan nilai yang selalu relevan,” ungkap Sindhunata.»
Ribuan Tangan, Satu Perjuangan
Pesan persatuan kemudian menjadi benang merah yang dibawa dari panggung seni ke ruang organisasi.
Suroso berharap semangat yang muncul selama kongres tidak berhenti setelah peserta meninggalkan ruang pertemuan. Nilai kebersamaan itu diharapkan dibawa kembali ke unit kerja masing-masing dan diwujudkan dalam hubungan kerja sehari-hari.
Ia menggambarkan kekuatan organisasi melalui simbol tangan dan suara yang bersatu. Satu individu mungkin memiliki keterbatasan, tetapi kekuatan kolektif dapat menghasilkan daya yang jauh lebih besar.
«“Satu tangan mungkin mudah dilemahkan, tetapi ribuan tangan yang bergandengan akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Satu suara mungkin dapat diabaikan, tetapi seribu suara akan menjadi perjuangan,” tutur Suroso.»
Bagi peserta Kongres ke-X PP-IP, pesan tersebut menjadi refleksi bahwa persatuan bukan sekadar jargon organisasi. Solidaritas membutuhkan keberanian untuk saling mendukung sekaligus kesediaan menjaga kepentingan bersama.
Dari panggung budaya, pesan itu disampaikan tanpa nada menggurui. Seni menjadi bahasa yang lebih lembut, tetapi tidak kehilangan daya dorongnya.
Teater Lingkar Semarang melalui “Persembahan Budaya Nusantara” seolah mengingatkan bahwa keberagaman tidak harus berakhir pada perbedaan. Ketika dirawat dalam kebersamaan, keberagaman justru dapat menjadi energi yang memperkuat organisasi.
Dari Hotel Santika Semarang, pesan itu diharapkan tidak berhenti sebagai tepuk tangan seusai pertunjukan. Ia dibawa pulang oleh para peserta Kongres ke-X PP-IP sebagai semangat untuk menjaga solidaritas, memperkuat organisasi, dan membangun lingkungan kerja yang lebih humanis.
(Ganang)
